Ada satu hal yang semakin saya rasakan setelah cukup lama berada di dunia pendidikan, murid sebenarnya lebih cepat membaca perilaku gurunya daripada mendengar nasihat gurunya. Kita bisa berbicara panjang tentang kejujuran, tetapi kalau guru sering terlambat masuk kelas, pesan tentang disiplin menjadi kehilangan kekuatannya. Kita bisa memasang tulisan “Buanglah Sampah pada Tempatnya” di banyak sudut sekolah, tetapi kalau orang dewasa di sekolah sendiri membiarkan sampah berserakan, tulisan itu hanya menjadi hiasan dinding.
Di sinilah saya melihat bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan. Ia harus dihidupkan. Dalam pendidikan karakter, Thomas Lickona menjelaskan bahwa karakter yang baik tidak berhenti pada mengetahui mana yang baik. Ada pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action). Artinya, anak bukan hanya tahu bahwa jujur itu baik, tetapi memiliki rasa untuk mencintai kejujuran dan akhirnya membiasakan diri berlaku jujur.¹
Gagasan ini sebenarnya sangat dekat dengan pemikiran pendidikan di Indonesia. Ki Hadjar Dewantara menempatkan lingkungan sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter. Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui pengajaran, tetapi melalui keluarga, sekolah dan lingkungan sosial tempat anak tumbuh.² Karena itu, sekolah sesungguhnya bukan sekadar tempat menyampaikan pelajaran. Sekolah adalah lingkungan yang setiap hari sedang mengajarkan sesuatu kepada anak, bahkan ketika guru tidak sedang mengajar.
Saya sering berpikir, seorang kepala sekolah atau guru mungkin hanya berbicara di depan murid selama beberapa menit. Tetapi perilakunya dapat “berbicara” sepanjang hari. Cara kita menyapa petugas kebersihan. Cara kita memperlakukan guru yang berbeda pendapat. Cara kita meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Cara kita menepati janji. Cara kita memperlakukan siswa yang lemah secara akademik. Semua itu adalah pelajaran karakter.
Kadang kita terlalu sibuk membuat program karakter, seperti spanduk, slogan, kegiatan keagamaan, seminar, buku tata tertib, bahkan berbagai macam penghargaan. Semua itu penting. Tetapi ada pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting, apakah budaya sehari-hari di sekolah sudah sesuai dengan nilai yang kita ajarkan?
Dharma Kesuma dan kawan-kawan memandang pendidikan karakter sebagai proses penguatan dan pengembangan perilaku murid secara utuh berdasarkan nilai yang menjadi rujukan sekolah.³ Jadi, karakter bukan sekadar materi tambahan dalam kurikulum. Ia harus masuk ke dalam kehidupan sekolah.
Dalam perspektif Islam, persoalannya bahkan lebih dalam. Pendidikan akhlak bukan hanya membuat seseorang mengetahui yang baik, tetapi membentuk kebiasaan sehingga kebaikan itu menjadi bagian dari dirinya. Abuddin Nata menjelaskan bahwa akhlak berkaitan dengan keadaan jiwa yang melahirkan perbuatan secara mudah tanpa membutuhkan pertimbangan yang panjang.⁴ Dengan kata lain, akhlak yang telah tertanam akan terlihat ketika seseorang tidak sedang diawasi.
Itulah mungkin ujian sebenarnya dari pendidikan karakter. Anak tetap jujur ketika tidak ada guru. Tetap menjaga kebersihan ketika tidak ada petugas. Tetap shalat ketika tidak ada yang menyuruh. Tetap menghormati orang lain ketika tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Saya semakin percaya, karakter tidak lahir dari satu kali nasihat. Ia tumbuh dari contoh yang dilihat berulang-ulang, kebiasaan yang dilakukan terus-menerus, dan lingkungan yang konsisten.
Karena itu, kalau kita ingin murid disiplin, mari orang dewasa di sekolah lebih dulu menunjukkan kedisiplinan. Kalau kita ingin murid santun, mari mereka melihat kesantunan dari gurunya. Kalau kita ingin mereka mencintai ibadah, jangan hanya menyuruh mereka beribadah, tetapi hadirkan suasana sekolah yang membuat ibadah terasa sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban.
Pada akhirnya, pendidikan karakter mungkin bukan tentang seberapa banyak nilai akademik yang berhasil kita ajarkan kepada anak. Tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang berhasil mereka lihat, rasakan, lakukan, lalu bawa pulang menjadi bagian dari kehidupannya. Sebab anak-anak mungkin lupa apa yang pernah kita katakan di dalam kelas. Tetapi mereka bisa sangat lama mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka. Dan barangkali, di situlah pendidikan karakter sebenarnya dimulai.
Referensi
¹ Thomas Lickona, Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility (New York: Bantam Books, 1991), hlm. 49–51.
² Agam Ibnu Asa, “Pendidikan Karakter Menurut Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara,” Jurnal Pendidikan Karakter, kajian tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara, khususnya peran keluarga, perguruan/sekolah, dan lingkungan pemuda dalam pendidikan karakter.
³ Dharma Kesuma, Cepi Triatna, dan Johar Permana, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 5.
⁴ Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, Edisi Revisi (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm. 11.





Komentar pembaca
Belum ada komentar. Jadilah pembaca pertama yang berbagi pandangan.