Beberapa hari terakhir, suasana Pondok Pesantren Darul Fikri Selatpanjang terasa berbeda. Para santri disibukkan oleh pesta demokrasi tahunan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Santri (BEST) periode 2026–2027. Ada panitia KPU yang bekerja, kandidat yang mempersiapkan diri, serta para pendukung yang mengikuti setiap tahapan dengan penuh antusias. Sebanyak empat kandidat ikhwan dan tiga kandidat akhwat turut meramaikan proses pemilihan ini.


Suasana semakin menarik ketika debat kandidat berlangsung pada Senin, 26 Oktober 2026. Masing-masing kandidat menyampaikan visi dan misi, menjawab pertanyaan audiens, serta berusaha meyakinkan para pemilih melalui gagasan yang mereka tawarkan. Puncaknya, pada 28 Oktober 2026, pemungutan dan penghitungan suara dilaksanakan. Hasilnya, pasangan nomor urut 02, M. Farhan Nurrasyid dan Masrel, terpilih untuk ikhwan, sementara pasangan nomor urut 01, Najwa Hanafi dan Rumiwati, terpilih untuk akhwat.
Seluruh rangkaian kegiatan ini menghadirkan suasana yang mengingatkan kita pada proses pemilihan umum di tengah masyarakat. Namun, bagi saya, ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang memperoleh suara terbanyak. Di balik kesibukan panitia, keberanian para kandidat, dan antusiasme para pemilih, sesungguhnya sedang berlangsung sebuah proses pendidikan yang sangat berharga.
Demokrasi adalah ruang belajar karakter. Ketika santri dipercaya menjadi panitia KPU, mereka belajar tentang tanggung jawab, dan kejujuran. Ketika seorang santri memberanikan diri menjadi kandidat, ia belajar menyampaikan gagasan dan menghadapi tantangan. Melalui debat, mereka berlatih berpikir kritis, berbicara dengan baik, serta menghargai pandangan orang lain. Sementara itu, pemungutan dan penghitungan suara mengajarkan bahwa setiap pilihan harus dihormati dan setiap proses harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
BEST sendiri telah hadir di Pondok Pesantren Darul Fikri sejak 2019 sebagai salah satu wadah pembelajaran kepemimpinan santri dan saat ini BEST dibina oleh ustazah Ulfa Zahirah, S.Pd. M.Pd. dan sekaligus Waka Kesiswaan SMA. Kehadirannya sejalan dengan semangat pendidikan pesantren yang menekankan Character, Leadership, Life Skill. Santri tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan, tetapi juga perlu dilatih membangun karakter, memimpin diri sendiri, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, dan mengambil keputusan.
Karena itu, BEST bukan sekadar organisasi yang menjalankan program kerja atau memilih pengurus setiap tahun. BEST adalah ruang praktik bagi santri untuk mengenal arti amanah sebelum kelak memikul tanggung jawab yang lebih besar di tengah masyarakat.
Pesantren memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama. Hari ini, para santri belajar memilih pemimpin. Esok, mereka mungkin akan menjadi pemimpin di tengah masyarakat. Dan di BEST-lah, salah satu proses belajar itu dimulai.





Komentar pembaca
Belum ada komentar. Jadilah pembaca pertama yang berbagi pandangan.