Saya masih ingat hari pertama diantar orang tua ke pesantren di Batang Angkola Tapanuli Selatan. Waktu itu, rasanya campur aduk. Ada keinginan untuk belajar dan merasakan kehidupan baru, tetapi ada juga rasa takut karena harus tinggal jauh dari orang tua.

Ketika orang tua mulai berpamitan untuk pulang, barulah saya benar-benar menyadari bahwa saya akan tinggal di pesantren, jauh dari keluarga. Biasanya, kalau ada apa-apa, ada orang tua yang bisa ditemui. Sekarang, semuanya harus dijalani sendiri. Rasanya tentu tidak mudah bagi seorang anak yang sebelumnya terbiasa tinggal bersama keluarga.

Lalu, kenapa harus nyantri?

Kalau saya mengingat kembali pengalaman mondok dulu, semakin terasa bahwa ilmu saja tidak cukup kalau tidak dibarengi ilmu agama yang mendalam serta adab yang baik. Anak mungkin bisa menjadi pintar di mana saja, tetapi menghormati guru, menjaga sikap, dan belajar menghargai orang lain itu perlu dibiasakan setiap hari. Di pesantren, saya tidak hanya mendengar nasihat tentang adab, tetapi juga belajar menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga soal kemandirian. Dulu, hal-hal seperti mencuci baju sendiri, mengatur uang saku, bangun pagi, sampai menyelesaikan masalah dengan teman terasa berat. Namun, lama-lama semua itu menjadi pelajaran yang sangat berarti. Saya mulai mengerti bahwa tidak selamanya orang tua bisa membantu kita. Ada saatnya kita harus belajar menghadapi masalah sendiri, berani mengakui kesalahan, dan bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.

Hal lain yang saya rasakan selama mondok adalah betapa besar pengaruh lingkungan terhadap diri seseorang. Nasihat orang tua tentu penting, tetapi hidup bersama teman-teman yang terbiasa salat berjamaah, mengaji, dan belajar membuat saya ikut belajar membiasakan hal yang sama. Setiap Subuh, ketika melangkah ke masjid dengan mata yang masih mengantuk, atau ketika membaca Al-Qur'an di tengah rasa lelah dan rindu rumah, ada pelajaran yang perlahan tumbuh dalam hati. Saya belajar lebih dekat kepada Allah, bukan hanya mengenal-Nya lewat pelajaran.

Saya juga belajar hidup bersama orang-orang yang berbeda sifat dan kebiasaan. Dulu waktu di pondok ada teman saya namanya Syawaluddin Simamora cukup menyenangkan orangnya dan tentunya masih banyak teman yang sama seperti beliau, dan ada kalanya juga teman yang lainnya  kadang membuat kesal,tetapi itulah kenangan di pondok, merekalah tempat belajar bagi saya bagaimana bersabar, meminta maaf, dan memaafkan. Anehnya, setelah bertahun-tahun bersama, teman yang dulu terasa asing justru menjadi saudara yang sulit dilupakan.

Sekarang saya semakin memahami bahwa ketika orang tua mengirim anaknya ke pesantren, bukan berarti mereka ingin menjauhkan anak dari keluarga. Justru, ada harapan besar yang mereka titipkan di sana. Mereka ingin anaknya tumbuh dengan ilmu, mengenal agama lebih baik, belajar mandiri, dan memiliki pegangan ketika kelak menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Tentu, mondok tidak serta-merta membuat seseorang menjadi sempurna. Banyak alumni santri masih punya kekurangan dan masih harus banyak belajar. Namun, enam tahun pengalaman itu memberikan banyak bekal yang tidak semuanya bisa diukur dengan nilai rapor atau ijazah.

Karena itu, kalau ada yang bertanya, kenapa harus nyantri? Bagi saya, jawabannya bukan sekadar agar anak pandai mengaji atau mampu membaca kitab. Lebih dari itu, pesantren menjadi tempat menempa ilmu, adab, kemandirian, kepemimpinan, dan semangat pengabdian. Lulusannya tidak hanya berkiprah di bidang agama, tetapi juga mampu menjadi pemimpin bangsa, akademisi, penulis, ahli hukum, dan tokoh masyarakat. Banyak tokoh berpengaruh di Indonesia yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren, di antaranya:

1. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Presiden RI ke-4, tokoh demokrasi dan toleransi yang pernah menimba ilmu di sejumlah pesantren, termasuk Krapyak dan Tambakberas.

2. KH. Ma’ruf Amin: Wakil Presiden RI ke-13, ulama dan tokoh ekonomi syariah yang pernah belajar di Pesantren Tebuireng dan sejumlah pesantren lainnya.

3.Prof. Nurcholish Madjid (Cak Nur): Cendekiawan Muslim dan pemikir pembaruan Islam, alumni Pondok Modern Gontor.

4.Prof. KH. Nasaruddin Umar: Menteri Agama RI dan Imam Besar Masjid Istiqlal, yang menempuh pendidikan di Pesantren As’adiyah, Sengkang, Sulawesi Selatan.

5.Ahmad Fuadi: Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, penulis novel Negeri 5 Menara yang menginspirasi banyak generasi muda.

6.Raja Juli Antoni: Alumni Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah, Garut, yang berkiprah di dunia politik dan pemerintahan sebagai Menteri Kehutanan RI.

7. Muhaimin Iskandar (Cak Imin): Alumni Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Ketua Umum PKB dan Menko Pemberdayaan Masyarakat.

8. Saifullah Yusuf (Gus Ipul): Tokoh Nahdlatul Ulama dan Menteri Sosial RI yang pernah menimba ilmu di Pesantren Tebuireng dan Krapyak.

9. Prof. Mahfud MD: Pakar hukum nasional, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi dan Menko Polhukam, yang pernah belajar di Pesantren Somber Lagah, Madura.

10.  KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha): Ulama yang dikenal luas karena keahliannya dalam tafsir Al-Qur’an dan fikih, serta kedekatannya dengan tradisi keilmuan pesantren.

Dan masih banyak lagi. Mereka menunjukkan bahwa pesantren bukan penghalang untuk meraih cita-cita. Justru, dengan bekal ilmu, adab, dan ketekunan, seorang santri dapat melangkah ke berbagai bidang kehidupan dan memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.

Wallahu A’lam