Pernahkah kita merenung, mengapa semakin banyak yang kita miliki, terkadang semakin banyak pula yang kita inginkan? Dulu kita berdoa agar mendapatkan pekerjaan. Setelah mendapatkannya, kita ingin jabatan yang lebih tinggi. Ketika penghasilan meningkat, keinginan ikut bertambah. Rumah sudah ada, tetapi masih ingin lebih besar. Kendaraan sudah tersedia, barang yang branded serta merek HP yang mewah dan lainnya, tetapi hati tetap gelisah melihat milik orang lain. Anehnya, kita sering lupa bahwa sesuatu yang dahulu kita minta dengan penuh harapan, sekarang justru kita anggap biasa saja. Jangan-jangan, yang terus bertambah bukan kebutuhan kita, melainkan keinginan kita.
Kita hidup pada zaman ketika kehidupan orang lain begitu mudah terlihat. Membuka media sosial, kita melihat teman membeli HP, kenderaan, barang mewah, rumah, orang lain naik jabatan, dan seseorang memamerkan keberhasilannya. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan mereka. Kita lupa bahwa yang kita lihat hanya sebagian kecil dari kehidupan orang lain, bukan seluruh cerita mereka. Akhirnya, nikmat yang ada di tangan terasa kecil hanya karena kita sibuk melihat apa yang belum kita punya. Allah sudah mengingatkan kita dalam Surah At-Takatsur ayat 1–2:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Jangan sampai sepanjang hidup kita hanya sibuk mengejar tambahan demi tambahan, sampai lupa memperbaiki diri, memperhatikan keluarga, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Kita boleh bekerja keras, mencari rezeki, dan meraih cita-cita. Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan dunia membuat kita lupa kepada tujuan hidup yang sebenarnya.
Lalu, apakah Islam melarang kita menjadi kaya atau memiliki keinginan yang tinggi? Tentu tidak. Yang perlu kita waspadai adalah ketika keinginan itu menguasai hati. Kita tidak lagi menikmati apa yang dimiliki karena pikiran selalu tertuju pada sesuatu yang belum tercapai. Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati. (HR. Bukhari, no. 6446).
Ada orang yang hartanya tidak banyak, tetapi hidupnya tenang, sifatnya qanaah, mudah bersyukur, dan senang berbagi. Sebaliknya, ada orang yang hartanya berlimpah, tetapi pikirannya tidak pernah berhenti memikirkan kekurangan. Jadi, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak yang kita miliki, melainkan bagaimana hati kita memandang apa yang telah diberikan Allah SWT. Allah berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.
Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha. Bersyukur berarti tetap bekerja dan memperbaiki kehidupan tanpa mengingkari nikmat yang sudah ada. Kita boleh punya cita-cita besar, tetapi jangan menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran harga diri kita.
Lantas, bagaimana melatih hati agar tidak selalu merasa kurang?
Pertama, belajarlah menghitung nikmat sebelum menghitung kekurangan. Kita mungkin belum memiliki rumah besar, tetapi masih mempunyai tempat berteduh. Penghasilan mungkin belum sesuai harapan, tetapi masih ada jalan untuk berusaha. Masalah mungkin belum selesai, tetapi kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki keadaan.
Kedua, kurangi kebiasaan membandingkan hidup dengan kehidupan orang lain. Rasulullah SAW mengajarkan agar kita melihat orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia, supaya tidak meremehkan nikmat Allah (HR. Muslim, no. 2963). Ini bukan ajakan merendahkan orang lain, melainkan latihan agar kita lebih mampu menghargai apa yang telah dimiliki.
Ketiga, perbanyak mengingat Allah. Sebab, ketenangan tidak selalu datang ketika semua keinginan terpenuhi. Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28 bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.
Keempat, gunakan apa yang kita punya untuk kebaikan. Harta yang dibagikan, ilmu yang diajarkan, waktu yang diberikan kepada keluarga, dan pertolongan kecil kepada sesama dapat menghadirkan kebahagiaan yang tidak selalu bisa dibeli dengan uang.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum ada, sampai lupa menikmati begitu banyak hal yang sudah Allah titipkan. Tidak salah ingin hidup lebih baik. Tidak salah ingin berhasil. Namun, jangan sampai kita memiliki segalanya, tetapi kehilangan rasa cukup di dalam jiwa.
Referensi
1. Al-Qur’an
2. Sahih al-Bukhari
3. Sahih Muslim
4. Hamka. Tasawuf Modern
5. Al-Ghazali. Ihya’ Ulumiddin
6. M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur’an





Komentar pembaca
Belum ada komentar. Jadilah pembaca pertama yang berbagi pandangan.