Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ لَنَا مِنْ أَنْفُسِنَا أَزْوَاجًا لِنَسْكُنَ إِلَيْهَا، وَجَعَلَ بَيْنَنَا مَوَدَّةً وَرَحْمَةً. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Segala puji bagi Allah SWT, Allah yang menciptakan kita dengan sebaik-baik bentuk, menanamkan fitrah dalam dada kita, dan menurunkan aturan supaya hidup ini selamat dunia dan akhirat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang setia di jalannya sampai hari kiamat.
Mari kita tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT. Takwa adalah bekal terbaik dan pagar paling kokoh untuk menjaga diri, keluarga, dan anak-anak kita di zaman perkembangan teknologi digital yang semakin pesat dan tantangan zaman yang kian kompleks.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Kita bersyukur tinggal di Selatpanjang. Kota yang dikenal dengan adat Melayunya yang kuat, orang-orang yang saling kenal dengan yang lainnya, dan masjid yang tidak sepi dari jamaah. Dari kecil kita mendengar pepatah melayu adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Anak-anak kita tumbuh dengan suara azan, dengan sapaan hormat kepada orang tua, dengan malu kalau berbuat salah. Itu kekayaan yang tidak ternilai. Namun kalau kita jujur. Zaman ini tidak lagi bertanya apakah kita tinggal di kota besar atau di pulau kecil. Selat boleh memisahkan kita dari daratan, tetapi tidak ada selat yang bisa menahan arus internet. Hari ini seorang anak di Selatpanjang bisa duduk di teras rumah, memegang HP, dan dalam hitungan detik sudah masuk ke dunia yang tidak pernah kita kenal. Anak-anak kita pun banyak yang merantau, ke Pekanbaru, ke Batam, ke negeri seberang, untuk kuliah dan bekerja. Di sana mereka bertemu pergaulan yang tidak lagi diawasi mata kampung.
Ada seorang ayah bekerja keras bertahun-tahun supaya anaknya bisa sekolah tinggi. Pagi ia berangkat, malam baru pulang. Terkadang berangkat ke Malaysia menjadi TKI. Ia yakin anaknya aman karena perutnya kenyang, uang sekolahnya terbayar, dan telepon genggamnya selalu ada. Suatu malam ia melihat apa yang ada di layar HP anaknya, dan hatinya hancur. Anak itu sudah lama dicekoki pesan bahwa penyimpangan adalah jati diri, bahwa dosa adalah hak, dan bahwa orang yang menolaknya adalah orang kolot yang tidak punya cinta. Seorang ayah itupun terduduk diam di sudut kamar. Ia sadar telah menjaga perut anaknya, tetapi lalai menjaga hatinya.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Kisah seperti ini bukan dongeng. Ia mengetuk pintu rumah-rumah kita dengan pelan, tanpa suara, dan sering kali kita baru sadar ketika semuanya sudah terlambat. Karena itu hari ini kita bicara dengan jujur dan tegas tentang satu ancaman besar bagi generasi muda kita, yaitu perilaku LGBT dan arus kampanye yang membungkusnya dengan kata-kata manis denagn narasi kebebasan, cinta, dan hak asasi manusia.
Mari kita dengar firman Allah SWT tentang kaum Nabi Luth, Surat Al-A'raf ayat 80 dan 81:
وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ اَحَدٍ مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ. اِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ النِّسَاۤءِۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ
"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini? Sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.'" (QS. Al-A'raf: 80-81)
Perhatikan kata yang Allah pilih. Allah menyebutnya fahisyah, perbuatan keji. Bukan "pilihan hidup", bukan "variasi cinta". Pelakunya disebut musrifun, kaum yang melampaui batas. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perbuatan ini menyelisihi fitrah, sebab Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi. Imam adz-Dzahabi memasukkan perbuatan kaum Luth ke dalam daftar dosa besar dalam kitab Al-Kaba'ir. Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Jawab Al-Kafi menyebutnya di antara kejahatan yang paling merusak, karena merusak fitrah, akhlak, dan kehormatan manusia. Di negeri kita, Majelis Ulama Indonesia lewat Fatwa Nomor 57 Tahun 2014 juga menegaskan bahwa homoseksual, lesbian, dan sodomi adalah perbuatan haram dan penyimpangan seksual. Jadi ini bukan pendapat satu dua orang. Inilah suara para ulama dari dulu sampai sekarang.
Padahal Allah sudah menunjukkan jalan yang indah dan menenteramkan. Dalam Surat Ar-Rum ayat 21 Allah berfirman:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21)
Ketenteraman, kasih sayang, dan keturunan yang baik, semuanya lahir dari pernikahan laki-laki dan perempuan. Itulah rancangan Allah SWT. Siapa yang mengganti rancangan itu dengan rancangan hawa nafsunya sedang menantang Penciptanya, dan tidak ada seorang pun yang menang melawan-Nya.
Rasulullah SAW sendiri sangat mengkhawatirkan perkara ini. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, beliau bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth." (HR. At-Tirmidzi no. 1457, Ibnu Majah no. 2563)
Bayangkan, Beliau yang paling penyayang kepada umatnya, yang menangis di malam hari untuk kita, mengatakan inilah yang paling beliau takutkan. Masihkah kita menganggapnya urusan sepele?
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Sekarang kita lihat dari sisi kesehatan dan sosial. Islam tidak pernah bertentangan dengan akal sehat dan kemaslahatan manusia. Kementerian Kesehatan dan lembaga kesehatan dunia dari tahun ke tahun menempatkan kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki sebagai salah satu kelompok berisiko tinggi penularan HIV, dan para tenaga medis terus mengingatkan bahaya penyakit menular seksual lainnya. Perilaku bebas dan berganti-ganti pasangan membuka pintu penyakit yang tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi juga pasangan, keluarga, bahkan anak yang tidak berdosa. Dari sisi sosial, ketika pernikahan yang sah digantikan hubungan yang tidak melahirkan keturunan, bangunan keluarga ikut goyah. Peran ayah dan ibu kabur, anak kehilangan teladan, dan masyarakat kehilangan penopang yang paling kuat. Maka larangan Allah bukan untuk mengekang kita. Ia pagar yang menyelamatkan kita sebelum jatuh ke jurang.
Namun ketegasan kita harus lurus, kita menolak perbuatannya, menolak kampanyenya, menolak upaya menormalkannya di sekolah, di tontonan, dan di media sosial. Tetapi kita tidak dibenarkan menghina, mengejek, apalagi main hakim sendiri terhadap pribadi seseorang. Itu bukan akhlak Rasulullah SAW. Menolak kemungkaran ada caranya, yaitu dengan ilmu, hikmah, dan jalur yang benar. Kalau ada orang dilingkungan kita yang tergelincir lalu ingin kembali, pintu taubat selalu terbuka lebar. Jangan sampai kita menutup pintu yang Allah sendiri membukanya. Kita rangkul yang mau pulang, dan kita lawan dengan tegas arus yang mau merusak.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Rasulullah SAW memberi pegangan yang jelas dalam hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذٰلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
"Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman." (HR. Muslim no. 49)
Jangan diam, diam ketika generasi kita digiring ke arah yang salah bukan kebijaksanaan, tetapi kelalaian. Mulailah dari rumah. Seorang ayah, jadilah ayah yang hadir dan menjadi teladan, bukan sekadar pencari nafkah. Begitu juga dengan seorang Ibu, jadilah tempat pulang yang hangat, tempat anak bercerita tanpa takut dihakimi. Dengarkan anak kita sebelum orang lain yang mendengarkan mereka. Perhatikan tontonan, pergaulan, dan HP mereka, bukan dengan curiga, tetapi dengan cinta. Kita yang di Selatpanjang punya modal besar,seperti masjid yang dekat, majelis taklim, guru ngaji, dan kampung yang masih saling menegur. Hidupkan semuanya. Dekatkan anak-anak kita kepada sahabat yang saleh. Dan bagi anak-anak yang akan merantau, bekali mereka bukan hanya uang saku, tetapi iman, doa, dan pesan orang tua yang menancap di dada. Anak yang hatinya penuh dengan Allah tidak mudah diisi oleh bisikan yang menyesatkan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa anak adalah amanah di tangan orang tuanya, dan hatinya yang suci bagaikan permata. Kalau dibiasakan pada kebaikan, ia tumbuh di atas kebaikan. Kalau dibiarkan, ia ikut ke mana angin membawanya.
Allah SWT memerintahkan kita dalam Surat At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At-Tahrim: 6)
Perhatikan, Allah tidak berkata jagalah dirimu saja. Allah berkata dan keluargamu. Artinya kita akan ditanya bukan hanya tentang shalat dan puasa kita sendiri, tetapi juga ke mana kita arahkan anak-anak kita. Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Al-Bukhari no. 893, Muslim no. 1829)
Orangtua kelak di hadapan Allah tidak ada alasan yang berguna, entah saya sibuk bekerja atau saya kira anak saya baik-baik saja. Yang ada hanya pertanyaan, Apa yang kamu lakukan dengan amanah yang Aku titipkan?
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Sebagai penutup khutbah ini, mari kita renungkan. Anak-anak kita adalah titipan, bukan milik kita. Mereka bisa menjadi penyejuk mata di dunia dan penolong kita di akhirat, atau menjadi beban dan penyesalan yang tak berkesudahan. Pilihannya dimulai hari ini, dari rumah kita, dari doa kita, dari keberanian kita berkata "tidak" kepada kemungkaran dan "ya" kepada kasih sayang yang mendidik. Jangan tunggu air mata penyesalan seperti seorang ayah yang disebutakan sebelumnya. Jaga mereka sekarang, sebelum terlambat. Semoga Allah menjaga anak-anak, keluarga, dan negeri kita, Selatpanjang dan Meranti tercinta, dari segala fitnah dan penyimpangan, serta menjadikan kita orang tua yang amanah dan umat yang teguh di atas fitrah.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الدَّاعِي إِلٰى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلٰى نَهْجِهِمْ إِلٰى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ، وَهِيَ الْحِصْنُ الْحَصِينُ لِلْأَفْرَادِ وَالْأُسَرِ وَالْأَوْطَانِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ مَا سَمِعْتُمْ فِي الْخُطْبَةِ الْأُولٰى يَدْعُونَا جَمِيعًا إِلٰى وَقْفَةٍ صَادِقَةٍ مَعَ أَنْفُسِنَا وَأَبْنَائِنَا. فَاحْفَظُوا فِطْرَةَ أَوْلَادِكُمْ بِالْقُدْوَةِ الْحَسَنَةِ قَبْلَ الْكَلَامِ، وَبِالْمَحَبَّةِ وَالْحِوَارِ قَبْلَ الزَّجْرِ، وَبِالصَّلَاةِ وَالْقُرْآنِ وَصُحْبَةِ الصَّالِحِينَ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ. وَرَاقِبُوا مَا يَشَاهِدُونَهُ وَمَنْ يُصَاحِبُونَهُ، وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَأْوًى آمِنًا لِقُلُوبِهِمْ، حَتّٰى لَا يَبْحَثُوا عَنِ الطُّمَأْنِينَةِ عِنْدَ غَيْرِكُمْ.
وَاعْلَمُوا أَنَّ بَابَ التَّوْبَةِ مَفْتُوحٌ لِكُلِّ مَنْ أَرَادَ الرُّجُوعَ إِلَى اللّٰهِ، فَلَا تُغْلِقُوهُ بِالتَّعْيِيرِ وَالْقَسْوَةِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى: ﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلٰى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللّٰهِ إِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾ [الزمر: ٥٣]. فَنُنْكِرُ الْمَعْصِيَةَ وَنَرْحَمُ الْعَاصِيَ، وَنَدْعُوهُ إِلَى الْعَوْدَةِ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ أَمَرَنَا بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنّٰى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيَّهَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: ٥٦]. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِيهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا وَشَبَابَنَا وَأُسَرَنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَمِنَ الْفَوَاحِشِ وَالْمُنْكَرَاتِ وَالِانْحِرَافَاتِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَهُمْ عَلٰى فِطْرَتِكَ وَدِينِكَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلٰى دِينِكَ. اَللّٰهُمَّ مَنْ كَانَ مِنَّا وَاقِعًا فِي مَعْصِيَةٍ فَاهْدِهِ وَتُبْ عَلَيْهِ وَرُدَّهُ إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيلًا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ خَيْرُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
عِبَادَ اللّٰهِ، ﴿إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾ [النحل: ٩٠]. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.
Referensi
Al-Qur'an Al-Karim
At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah
Muslim , Shahih Muslim
Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari
Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim
Adz-Dzahabi, Al-Kaba'ir
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Jawab Al-Kafi liman Sa'ala 'an Ad-Dawa' Asy-Syafi.
Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin
Majelis Ulama Indonesia, Fatwa MUI Nomor 57 Tahun 2014 tentang Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan.
Kementerian Kesehatan RI dan WHO, laporan situasi HIV/AIDS dan infeksi menular seksual





Komentar pembaca
Belum ada komentar. Jadilah pembaca pertama yang berbagi pandangan.