Jangan biarkan HP mengambil waktu bersama Allah
Coba kita jujur sebentar kepada diri kita sendiri. Berapa kali dalam sehari kita memegang HP? Saya sendiri kadang tersenyum ketika memikirkan hal ini. Begitu bangun tidur, tangan seperti otomatis mencari HP. Belum benar-benar sadar sepenuhnya, mata sudah mencari layar. Lihat pesan, lihat WhatsApp, buka media sosial, lihat berita, kemudian tanpa terasa pindah ke video. Awalnya hanya ingin melihat sebentar. Tapi ternyata sepuluh menit, dua puluh menit, bahkan bisa lebih. Kadang setelah itu kita bertanya sendiri, “Tadi saya lihat apa sebenarnya?”
Saya kira banyak di antara kita mengalami hal yang sama.
HP sebenarnya bukan musuh kita. HP sangat membantu kehidupan. Saya sendiri banyak menggunakan HP untuk bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, membaca Al-Qur'an, mendengarkan kajian, bahkan menyelesaikan berbagai urusan sekolah. Jadi masalahnya bukan HP. Masalahnya adalah ketika HP mulai mengambil kendali atas diri kita.
Saya juga sering melihat hal ini di lingkungan sekolah. Anak-anak sekarang begitu dekat dengan HP. Kadang ketika ada waktu kosong sedikit saja, tangan langsung mencari HP. Menunggu sebentar, HP. Duduk sebentar, HP. Bahkan ketika sedang berkumpul dengan teman-temannya pun, masing-masing sibuk dengan layar sendiri. Di satu sisi mereka sedang bersama, tetapi sebenarnya tidak benar-benar hadir.
Dan kalau kita mau jujur, orang dewasa pun tidak jauh berbeda. Yang lebih membuat saya merenung adalah ketika azan sudah terdengar, tetapi tangan masih sibuk menggulir layar. Kita mendengar panggilan, “Hayya 'alash-shalah...” tetapi masih berkata dalam hati, “Sebentar lagi.” Padahal yang memanggil kita bukan manusia. Allah yang memanggil.
Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al-Munafiqun: 9).
Ayat ini membuat kita berpikir. Allah tidak mengatakan harta dan anak itu buruk. Tidak. Semuanya adalah nikmat dan amanah. Tetapi sesuatu yang baik pun bisa menjadi masalah kalau membuat kita lalai dari Allah. Begitu juga dengan HP.
Ada hadis Rasulullah SAW yang sangat sederhana, tetapi menurut saya dalam sekali maknanya:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dan merugi karenanya, kesehatan dan waktu luang. (HR. Bukhari no. 6412).
Saya sering merasa bahwa yang paling banyak “bocor” dalam kehidupan kita bukan uang, tetapi waktu. Bocornya sedikit-sedikit. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit. Karena sedikit, kita tidak merasa kehilangan. Padahal kalau dikumpulkan, bisa jadi berjam-jam.
Kita panik ketika baterai HP tinggal 5 persen. Langsung mencari charger. Tetapi pernahkah kita merasa panik ketika iman kita tinggal sedikit? Pernahkah kita gelisah karena sehari berlalu tanpa membaca Al-Qur'an? Pernahkah kita merasa takut ketika hati mulai jauh dari Allah? Ini yang sebenarnya perlu kita tanyakan kepada diri sendiri. Bukan berapa lama HP kita hidup, tetapi berapa lama hati kita hidup bersama Allah?
Saya tidak mengajak kita membungkus HP lalu menyimpannya di lemari. Tidak. Saya juga butuh HP untuk berbagai urusan. Tetapi mungkin kita memang perlu belajar membuat batas. Ketika azan berkumandang, letakkan HP. Ketika shalat, jauhkan HP. Ketika membaca Al-Qur'an, jangan biarkan notifikasi mengganggu. Ketika anak berbicara, simpan HP dan lihat wajahnya. Ketika pasangan berbicara, dengarkan.
Karena suatu hari nanti anak-anak kita akan besar. Orang tua kita mungkin sudah tidak ada. Dan waktu yang kita habiskan di depan layar tidak akan pernah bisa diminta kembali.
Gunakan HP untuk mencari rezeki. Gunakan untuk mencari ilmu. Gunakan untuk menyambung silaturahmi. Gunakan untuk membaca Al-Qur'an dan mengingatkan kebaikan. Tetapi jangan sampai HP selalu berada di tangan kita, sementara Allah semakin jauh dari kehidupan kita. Jangan sampai kita lebih cepat membuka notifikasi daripada membuka Al-Qur'an. Jangan sampai kita lebih takut HP kehabisan baterai daripada takut hati kehabisan iman.
Mungkin hari ini HP kita penuh dengan foto, video, pesan, dan berbagai aplikasi. Tetapi coba tanyakan kepada diri sendiri, apakah hati kita juga penuh dengan mengingat Allah? Sebab pada akhirnya, bukan berapa lama layar menyala yang akan kita pertanggungjawabkan, tetapi untuk apa waktu hidup yang Allah titipkan kepada kita.
Wallahu a’lam





Komentar pembaca
Belum ada komentar. Jadilah pembaca pertama yang berbagi pandangan.