Ada guru yang namanya mungkin terlupakan ketika muridnya telah dewasa. Namun, ada pula guru yang tetap hidup dalam ingatan, bahkan ketika rambut muridnya mulai memutih. Bukan karena guru itu paling keras, paling ditakuti, atau paling pandai menjelaskan pelajaran, melainkan karena pernah hadir dengan cara yang menyentuh hati muridnya.

Menjadi guru membuat saya memahami bahwa mendidik bukan sekadar menyampaikan ilmu. Ada perasaan murid yang perlu kita pahami, ada kesulitan yang mungkin tidak mereka ceritakan, dan ada hal-hal sederhana yang ternyata begitu berarti bagi mereka. Sebagai guru sekaligus Kepala SMA IT Darul Fikri, saya sering merenungkan satu pertanyaan, jika suatu hari murid-murid kita telah meninggalkan sekolah, apa yang akan mereka kenang dari guru-gurunya?

Pertanyaan ini membuat saya berpikir bahwa ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam mendidik. Selama ini, kita mungkin lebih sering memikirkan bagaimana murid memahami pelajaran, memperoleh nilai yang baik, dan menaati aturan sekolah. Semua itu memang penting. Namun, apakah kita juga sudah memperhatikan bagaimana perasaan mereka selama berada di sekolah bersama kita? Sebagai pendidik, ada hal yang perlu di perhatikan :

Bukan Hanya Pelajaran yang Mereka Ingat :

Dalam perjalanan mendidik, saya semakin menyadari bahwa murid tidak selalu mengingat seluruh materi yang kita ajarkan. Rumus, definisi, dan catatan pelajaran mungkin perlahan terlupakan. Namun, cara seorang guru memperlakukan mereka bisa membekas jauh lebih lama. Murid mungkin lupa kapan seorang guru menjelaskan materi pelajaran, tetapi ia bisa mengingat guru yang bersedia menjelaskan kembali ketika dirinya belum memahami pelajaran. Ia mungkin lupa nilai ujiannya, tetapi tidak mudah melupakan guru yang menegurnya tanpa mempermalukannya di hadapan teman-temannya.

Saya juga belajar bahwa menjadi kepala sekolah bukan hanya tentang memastikan jadwal berjalan, administrasi tertib, dan target pendidikan tercapai. Semua itu penting, tetapi ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu memastikan sekolah menjadi tempat murid merasa dihargai, dibimbing, dan diberi kesempatan untuk berkembang. Saya pernah mendengar cerita dari sesama guru tentang seorang murid yang tampak biasa saja di kelas, tidak banyak bertanya, dan jarang menonjol. Ternyata, murid tersebut sedang menghadapi persoalan yang tidak mudah diceritakannya. Perhatian sederhana dari gurunya membuat ia merasa masih ada seseorang yang bersedia mendengarkan.

Cerita seperti ini mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh persoalan yang dibawa murid ketika memasuki ruang kelas. Karena itu, jangan terburu-buru menilai mereka hanya dari nilai, kedisiplinan, atau perilakunya pada hari itu. Boleh jadi, anak yang hari ini membuat kita kesal sebenarnya sedang membutuhkan bimbingan lebih sabar. Sebagai guru, kita tentu ingin murid berubah menjadi lebih baik. Namun, perubahan itu tidak selalu bisa terjadi hanya dengan teguran. Ada kalanya mereka membutuhkan penjelasan, pendampingan, dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Di sinilah kesabaran seorang guru diuji.

Guru yang Tegas, tetapi Tetap Merangkul :

Guru yang dirindukan bukan berarti guru yang selalu menuruti keinginan murid. Pendidikan tetap membutuhkan aturan, disiplin, dan ketegasan. Sebagai guru, kita harus berani menegur ketika murid melakukan kesalahan. Namun, cara kita menegur juga perlu diperhatikan. Kita boleh kecewa terhadap perilakunya, tetapi jangan sampai membuatnya merasa dirinya tidak berharga. Kita boleh memberikan sanksi yang mendidik sesuai aturan sekolah, tetapi jangan menjadikan penghinaan sebagai cara mendisiplinkannya.

Menurut saya, seorang guru perlu memahami perbedaan antara membuat murid takut dan membuat murid sadar. Murid yang takut mungkin akan diam ketika berhadapan dengan gurunya, tetapi belum tentu memahami kesalahannya. Sebaliknya, murid yang dibimbing dengan baik diharapkan mampu memahami mengapa ia harus berubah, sekalipun gurunya tidak sedang mengawasi.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara melalui sistem among mengingatkan kita bahwa pendidikan merupakan proses menuntun anak agar berkembang sesuai potensi dan kodratnya. Begitu pula prinsip asah, asih, dan asuh, yang menekankan pentingnya ilmu, kasih sayang, dan pendampingan dalam pendidikan.

Saya memahami bahwa kedekatan antara guru dan murid bukan berarti guru kehilangan wibawa. Justru, ketika murid merasa dihargai, mereka memiliki ruang untuk bertanya, mengakui kesalahan, dan menyampaikan kesulitan yang dihadapi. Ketegasan tetap diperlukan, tetapi murid juga perlu merasakan bahwa gurunya sungguh-sungguh ingin melihat mereka menjadi lebih baik. Bagi saya, mendidik bukan hanya memastikan murid mematuhi aturan ketika berada di sekolah. Lebih dari itu, kita ingin mereka memiliki kesadaran untuk melakukan hal yang benar meskipun tidak ada guru yang melihat.

Ada Murid yang Hanya Membutuhkan Seseorang untuk Percaya :

Saya percaya bahwa setiap murid memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang perlu berkali-kali mencoba. Ada yang berani menyampaikan pendapat, ada pula yang lebih banyak diam karena takut salah atau dianggap tidak mampu. Dalam keadaan seperti ini, guru perlu memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk berkembang. Jangan sampai kita terlalu sibuk membandingkan kemampuan mereka hingga lupa bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Terkadang, kalimat sederhana seperti, “Coba lagi, Nak. Bapak yakin kamu bisa belajar lebih baik,” terasa biasa bagi kita. Namun, bagi murid yang sedang kehilangan kepercayaan diri, kalimat itu bisa membuatnya berani mencoba kembali. Saya merasa bahwa guru perlu melihat murid lebih jauh daripada sekadar nilai yang tertulis di buku rapor. Nilai memang penting, tetapi kita juga perlu memperhatikan keberanian, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemauan mereka untuk memperbaiki diri.

Tugas guru bukan membenarkan semua tindakan murid, melainkan membimbing mereka agar belajar dari kesalahan. Kita tidak selalu bisa melihat hasilnya dalam waktu singkat. Namun, selama kita terus berusaha mendidik dengan sungguh-sungguh, setiap kesempatan yang kita berikan dapat menjadi bagian dari proses pertumbuhan mereka.

Kelak, Ketika Mereka Tidak Lagi Menjadi Murid Kita :

Suatu hari, ruang kelas akan berganti penghuni. Murid-murid yang sekarang kita bimbing akan melanjutkan pendidikan, bekerja, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan mereka sendiri. Mungkin kita tidak akan mengetahui seluruh perjalanan mereka. Mungkin mereka tidak sempat kembali ke sekolah untuk menyampaikan terima kasih. Namun, bagi seorang guru, ada kebahagiaan tersendiri ketika mengetahui bahwa murid yang dahulu dibimbingnya tumbuh menjadi manusia yang baik. Mereka mungkin tidak lagi mengingat semua materi pelajaran, tetapi nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian yang pernah ditanamkan di sekolah diharapkan tetap mereka bawa dalam kehidupan.

Jika suatu hari mereka kembali dan berkata, Pak, saya masih ingat nasihat Bapak dahulu, tentu itu menjadi kebahagiaan tersendiri. Kita mungkin sudah lupa kapan nasihat itu disampaikan, tetapi ternyata bagi murid, ada sesuatu yang masih membekas hingga mereka dewasa. Bagi saya, menjadi guru yang dirindukan bukanlah tentang membuat murid selalu mengingat nama kita atau mengharapkan mereka datang kembali setelah lulus. Kita mendidik agar mereka tumbuh menjadi manusia mandiri yang mampu menjalani kehidupan dengan ilmu, iman, adab, dan tanggung jawab.

Karena itu, sebelum pulang dari sekolah, ada baiknya kita sesekali bertanya kepada diri sendiri, sudahkah hari ini kita mengajar dengan sungguh-sungguh, menegur dengan bijaksana, mendengarkan murid dengan baik, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki diri? Pertanyaan ini juga perlu saya ajukan kepada diri sendiri. Sebab, menjadi guru dan kepala sekolah bukan berarti kita selalu benar dalam memperlakukan murid. Kita pun perlu terus belajar, memperbaiki cara mendidik, dan mengevaluasi diri. Jangan sampai kita terlalu sibuk menuntut murid menjadi lebih baik, tetapi lupa memperbaiki diri sebagai pendidik.

Kita tidak pernah tahu bagian mana dari perkataan dan tindakan kita yang paling diingat oleh murid. Karena itu, selama masih diberi kesempatan untuk mendidik, marilah kita menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Wallahu A’lam