Ada hari-hari yang berlalu begitu saja. Namun, ada pula hari yang membuat saya ingin berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu menyadari betapa panjang jalan yang telah dilalui.
22 September 2026 adalah salah satu hari istimewa bagi saya.
Hari ini bukan sekadar sebuah tanggal. Ia menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya karena tiga cerita besar hadir pada hari yang sama.
Pertama, Tujuh Tahun Perjalanan Pondok Pesantren Darul Fikri
Pada 22 September 2026, Pondok Pesantren Darul Fikri genap berusia tujuh tahun. Di tempat inilah saya diberi kesempatan untuk ikut berjuang, merintis, dan mendampingi perjalanan dakwah pendidikan di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Tujuh tahun tentu bukan perjalanan yang singkat. Merintis sebuah lembaga pendidikan tidak selalu berjalan mudah. Ada keterbatasan, cobaan, rintangan, kelelahan, dan berbagai dinamika yang harus dilewati.
Namun, dari perjalanan itu saya belajar bahwa sesuatu yang besar tidak lahir dalam sehari.
Hari demi hari, Darul Fikri terus bertumbuh. Sarana dan prasarana semakin memadai. Para guru semakin profesional. Jumlah santri terus bertambah. Dan yang paling membahagiakan, keberadaan pesantren ini semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Meranti.
Bagi saya, pertumbuhan Darul Fikri bukan sekadar tentang bertambahnya bangunan, guru, atau jumlah santri. Lebih dari itu, ada harapan yang sedang tumbuh.
Ada santri-santri yang sedang belajar. Ada orang tua yang menitipkan harapan. Ada guru-guru yang mengabdikan hidupnya untuk mendidik. Dan ada cita-cita besar agar pendidikan Islam terus berkembang serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kedua, Puncak Perjuangan Pendidikan
Cerita kedua pada hari yang sama menjadi salah satu puncak dari perjalanan pendidikan saya: Saya wisuda S3 pertanda selesainya perjuangan menempuh pendidikan doktoral di UIN Sultan Syarif Kasim Riau.
Tiga tahun saya menjalani proses pendidikan S3 sambil tetap mendampingi pembelajaran dan perjuangan di Pondok Pesantren Darul Fikri.
Tidak selalu mudah membagi waktu, pikiran, tanggung jawab, keluarga, penelitian, dan aktivitas pesantren. Ada saat-saat ketika semuanya terasa berat. Namun, perjalanan itu justru mengajarkan saya satu hal penting:
Jangan menunggu keadaan sempurna untuk terus melangkah.
Kadang kita hanya perlu berjalan, meskipun perlahan. Sebab, perjalanan panjang selalu dimulai dari satu langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Hari ini, ketika satu tahap pendidikan itu selesai, saya tidak menganggap gelar doktor sebagai akhir perjuangan. Justru sebaliknya, gelar ini adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Saya ingin ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada ijazah dan gelar. Ilmu harus kembali kepada masyarakat. Harus menjadi manfaat. Harus menjadi energi untuk terus bergerak dalam pendidikan, dakwah, dan pengabdian.
Ketiga, Lahirnya amruleducation.com
Dan ternyata, 22 September tidak berhenti pada dua cerita tersebut.
Pada tanggal yang sama, saya juga meluncurkan amruleducation.com, sebuah ruang sederhana yang saya niatkan sebagai tempat berbagi gagasan, pengalaman, pengetahuan, pendidikan, dakwah, dan berbagai tulisan yang mudah-mudahan memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya, dan ini adalah tulisan pertama saya di portal ini.
Website ini saya hadirkan bukan karena saya merasa telah mengetahui banyak hal. Justru karena saya menyadari bahwa ilmu terlalu berharga jika hanya disimpan sendiri.
Tulisan adalah salah satu cara untuk memperpanjang umur sebuah gagasan.
Karena itu, saya ingin menjadikan amruleducation.com sebagai salah satu ruang khidmat saya dalam berdakwah melalui tulisan.
Jika selama ini dakwah lebih banyak disampaikan melalui lisan, maka mulai hari ini saya ingin memperluas ikhtiar melalui tulisan: menulis apa yang dipelajari, apa yang dialami, apa yang direnungkan, dan apa yang mungkin bermanfaat bagi orang lain.
Pada akhirnya, mungkin inilah makna 22 September bagi saya. Bukan sekadar tentang usia pesantren, selesainya pendidikan, atau lahirnya sebuah website. Lebih dari itu, ia adalah pengingat bahwa setiap langkah adalah amanah, setiap ilmu adalah tanggung jawab, dan setiap kesempatan harus diupayakan menjadi kebaikan.
22 September 2026. Satu tanggal, tiga cerita, satu jalan pengabdian.
Semoga Allah memberkahi setiap langkah yang telah dilalui, memudahkan langkah yang akan datang, dan menjadikan ilmu, pendidikan, dakwah, serta tulisan ini sebagai jalan untuk terus memberi manfaat.
Sebab perjalanan ini belum selesai. Justru, dari sinilah langkah berikutnya dimulai.





Komentar pembaca
Belum ada komentar. Jadilah pembaca pertama yang berbagi pandangan.